Iran Cemas Angka Kematian Akibat COVID-19 Bertambah 2 Kali Lipat

Iran Cemas Angka Kematian Akibat COVID-19 Bertambah 2 Kali Lipat

Iran cemas masyarakat yang terkena COVID-19 dapat makin bertambah 2x lipat bila warga tidak taat prosedur kesehatan. Menteri Kesehatan Iran Saeed Namaki berbicara, ini ialah peluang paling akhir.

 

“Ini ialah peluang paling akhir supaya mekanisme kesehatan kita sembuh, bila warga tidak berhasil, kita akan kalah atas dan capai angka kematian sampai 4-digit,” tutur Menteri kesehatan Iran seperti dikutip Middle East Monitor, Rabu (18/11/2020).

Saeed Namaki menjelaskan, jumlah itu ialah ‘jurang yang dalam’ dan susah untuk negara untuk keluar dari keadaan itu.

Sekarang ini, Iran dan Eropa mulai masuk musim dingin hingga dicemaskan masalah COVID-19 naik. Beberapa negara Eropa telah menulis kenaikan masalah COVID-19. Prancis menerpkan lockdown kembali lagi.

Sampai Selasa 17 November 2020, ada tambahan 113.352 masalah COVID-19 baru di Iran. Keseluruhannya, ada 788.473 masalah.

Angka kematian ada 42.461 keseluruhan masyarakat Iran yang wafat karena COVID-19. Banyaknya pasien wafat di Iran adalah yang paling tinggi di Timur tengah.

Iran tidak mengaplikasikan lockdown keseluruhan. Pemerintahan Iran berbicara akan mempererat prosedur kesehatan di ibukota Tehran dan beberapa kota yang lain.

Pengetatan ketentuan akan diawali pada 21 November kedepan. Usaha dan service non-esensial akan tutup atau dikurangi.

Jalan keluar masuk kendaraan akan terbatasi. Jika prosedur diaplikasikan, beberapa mobil tidak dibolehkan untuk masuk keluar beberapa kota yang ketentuannya sedang diperketat.

Sekarang ini, Iran sedang disanksi Amerika Serikat. Ancaman itu dipandang Iran memperberat keadaan negaranya.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump hampir menyerbu Iran pada minggu kemarin. Sasarannya ialah situs khusus nuklir Iran.

Dikutip Arab News, Selasa 17 November 2020, Presiden Trump sudah mengundang beberapa pejabat negara di Oval Office untuk mengulas gempuran ini.

Ikut datang ialah Wakil Presiden Mike Pence, Menteri Luar Negeri Mike Pompeo, (plt) Menteri Pertahanan Christopher Miller, dan pimpinan Kepala Staff Kombinasi Mark Milley.

Donald Trump minta pilihan ke penasihatnya untuk menyerbu nuklir Iran. Sesudah mengangsung-nimbang, dia pada akhirnya menggagalkan tujuannya, karena ada resiko perselisihan yang semakin makin tambah meluas.

“Ia (Trump) minta beberapa opsi. Mereka memberinya bermacam skenario dan dia pada akhirnya memilih tidak meneruskannya,” tutur seorang sumber ke The New York Times.

Faksi Gedung Putih menampik memberi komentar berkenaan atas kemauan serangan Iran ini.

Presiden Jokowi menjelaskan jika vaksin virus corona (Covid-19) akan ada akhir 2020 atau awalnya 2021. Menurutnya, vaksin akan disuntikkan ke 170 juta sampai 180 juta warga di Indonesia.

error: Content is protected !!